KLASIFIKASI TINGKAT KEKERINGAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) LIMBOTO (Classification Of Drought Level In Limboto Watershed)

Sri Rahayu Ayuba, Munajat Nursaputra, Tisen Tisen

Abstract


Abstract - Changes in land use are the socio-economic forces that most encourage changes and ecosystem degradation. Disruption of the hydrological cycle has caused "3 T" classic problems of water "too much (which causes flooding)," too little (which causes drought) and "too dirty (which causes water pollution). Based on data from BNPB in 1979-2009 there were 8 drought events in Gorontalo Province. This research was carried out in the Limboto Watershed with an area of 86412.6 ha. The method used is the SWAT Method (Soil and Water Assessment Tool) using ArcSwat software that integrates GIS. This research is included in non-experimental research that is by using direct observation in the field. Input of SWAT data include slope, land cover type, climate, and soil type. The analysis used in determining the vulnerability of the watershed to drought is to use the Soil Moisture Deficit Index (SMDI) through the Soil Water (SW) parameter. In this study the use of SWAT model output through ArcSwat, has been able to describe the condition of water supply in the Limboto watershed, which as a whole has been included in the "Vulnerable" category. By comparing the area that experienced drought before and after simulation / running land use directives, it can be concluded that the difference in the area of the watershed that experiences drought with the "Vulnerable" classification is obtained 37,513.1 ha or a decrease of 43.4% from watershed area.

Keywords: Drought, Direction for Land Use, Limboto River Basin, Landing Simulation


Abstrak – Perubahan penggunaan lahan merupakan kekuatan sosial ekonomi yang paling mendorong perubahan dan degradasi ekosistem. Terganggunya siklus hidrologi telah menimbulkan “3 T” masalah klasik air “too much (yang menimbulkan banjir), “too little (yang menimbulkan kekeringan) dan “too dirty (yang menimbulkan pencemaran air). Berdasarkan data BNPB tahun 1979-2009 terdapat 8 kejadian kekeringan di Provinsi Gorontalo. Penelitian ini dilaksanakan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto dengan luas DAS 86412,6 ha. Metode yang digunakan adalah Metode SWAT (Soil and Water Assessment Tool) dengan menggunakan software ArcSwat yang terintegrasi SIG. Penelitian ini termasuk dalam penellitian non-eksperimen yakni dengan menggunakan pengamatan langsung di lapangan. Input data SWAT antara lain lereng, jenis tutupan lahan, iklim, dan jenis tanah. Analisis yang digunakan dalam menentukan kerentanan DAS terhadap kekeringan adalah dengan menggunakan Soil Moisture Deficit Index (SMDI) melalui parameter Soil Water (SW). Pada penelitian ini penggunaan output model SWAT melalui ArcSwat, telah mampu menggambarkan kondisi pasokan air pada DAS Limboto, yang secara keseluruhan telah termasuk dalam kategori “Rentan”. Dengan membandingkan luas area yang mengalami kekeringan pada sebelum dan setelah dilakukan simulasi/running arahan penggunaan lahan maka dapat disimpulkan bahwa selisih luas area DAS yang mengalami kekeringan dengan klasifikasi “Rentan” diperoleh 37.513,1 ha atau secara persentasi mengalami penurunan sebesar 43,4 % dari luas DAS.

Kata Kunci: Kekeringan, Arahan Penggunaan Lahan, Daerah Aliran Sungai Limboto, Simulasi Arahan

References


Arnold, J. J., Kiniry, J., Srinivasan, R., Williams, J. R. R., Haney, E. B. B., & Neitsch, S. L. L., 2011. Soil and water assessment tool: Input/output file documentation version 2009. Texas A~ M University …, 662.

Arsyad, S., 2010. Konservasi Tanah dan Air (II). Bogor: IPB.

Cahyono, S, Suprayogi, M. F. I., 2016. Analisis Indeks Kekeringan Menggunakan Metode Thornthwaite Mather Pada Das Siak, (September 2015), 1–15.

Ferijal, T., 2013. Aplikasi Model SWAT Untuk Mensimulasikan Debit Sub DAS Krueng Meulesong Menggunakan Data Klimatologi Aktual dan Data Klimatologi Hasil Perkiraan. Rona Teknik Pertanian, 6(1).

Kodoatie, R. J. dan R. S., 2010. Tata Ruang Air. Yogyakarta: ANDI.

Menteri Kehutanan Republik Indonesia, 2009. Tentang Penetapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Prioritas dalam Rangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010-2014. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Narasimhan, B., & Srinivasan, R., 2005. Development and evaluation of Soil Moisture Deficit Index (SMDI) and Evapotranspiration Deficit Index (ETDI) for agricultural drought monitoring. Agricultural and Forest Meteorology, 133(1–4), 69–88. https://doi.org/10.1016/j.agrformet.2005.07.012

Nursaputra, M.. 2015. Modul Pelatihan SWAT Menggunakan Arcswat. Makassar.

Ruijter, J., & Agus, D. F., 2004. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Participatory Integrated Development in Rainfed Areas Komponen-komponen dalam pengelolaan DAS. Retrieved from http://www.worldagroforestry.org/sea/Publications/files/leaflet/LE0024-04.pdf.

UN-WWAP, 2015. The United Nations World Water Development Report 2015: Water for a Sustainable World. https://doi.org/978-92-3-100071-3

Wu, J., 2008. The magazine of food, farm, and resource issues Land Use Changes: Economic, Social, and Environmental Impacts. CHOICES 4th Quarter, 23(4).

Wuryanta, A., 2015. Arahan Fungsi Pemanfaatan Lahan Berbasis Daerah Aliran Sungai Sebagai Upaya Pelestarian Lingkungan ( Studi Kasus di Sub DAS Samin ds ). Prosiding Seminar Nasional Innovation in Environmental Management.


DOI: http://dx.doi.org/10.31314/jsig.v1i2.174

Article metrics

Abstract views : 345 | views : 538

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 JURNAL SAINS INFORMASI GEOGRAFIS



Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional. ISSN (online): 2614-1671

 

Indexing Site :

 

Web
Analytics JSIG StatCounter