Kadar Air, Kadar Protein dan Organoleptik Bakso Ayam Petelur Afkir Pada Proporsi Tepung Ceker Ayam Berbeda
Abstract
The purpose of this study was to measure the effect of flour and chicken feet on the water quality, protein, and organoleptic properties of leftover chicken meatballs. This study was conducted using a completely randomised design (CRD) at the Industrial Engineering and Microbiology Laboratory of TribhuwanaTunggadewi University, Malang. In detail, the treatments were given as P0 (100 percent chicken meat without chicken feet flour), P1 (95 percent chicken meat and 5 percent chicken feet flour), P2 (90 percent chicken meat and 10 percent chicken feet flour), and P3 (85percent chicken meat and 15 percent chicken feet flour). The data obtained were tested organoleptic using the ChiSquare (X²) approach and analysis of variance (ANOVA) to determine the relationship between variables. Then the Least Significant Difference (LSD) test was carried out at the 5% level. The results showed that the addition of chicken feet flour to meatballs did not change their water content. The addition of chicken feet flour had a major impact on protein content; however, the best treatment in P3 (85% chicken meat and 15% chicken feet flour) had the highest protein value (0.63).In contrast, the P0 treatment containing only chicken meat had the lowest protein value (0.31). According to the research findings, the addition of chicken feet flour increased the protein content of leftover laying hen meatballs, with P3 as the ideal amount. This research opens up opportunities for the development of healthier and more nutritious meatball products, as well as optimizing the use of raw materials that are often considered waste, such as chicken feet
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur pengaruh tepung ceker ayam dan daging ayam petelurafkir terhadap kualitas air, protein, dan organoleptik bakso ayam petelur afkir. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) di Laboratorium Rekayaasa Proses Industri Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Perlakuan terdiri dari 4 yaituP0 (100 persen daging ayam tanpa tepung ceker), P1 (95 persen daging ayam dan 5 persen tepung ceker), P2 (90 persen daging ayam dan 10 persen tepung ceker), dan P3 (85 persen daging ayam dan 15 persen tepung ceker). Data yang diperoleh dilakukan uji organoleptik dengan menggunakan pendekatan Chi- Square (X2) dan analisis variansi (ANOVA) untuk mengetahui hubungan antar variabel.Bila terdapat perbedaan dilanjutkan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% . Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung ceker ayam ke dalam bakso tidak berpengaruh terhadap kadar air. Penambahan tepung ceker ayam berpengaruh terhadap kadar protein dimana perlakuan P3 (15% tepung ceker ayam dan 85% daging ayam ) menghasilkan nilai protein tertinggi (0,63). Penambahan tepung ceker ayam meningkatkan kadar protein bakso ayam petelur afkir, dengan P3 sebagai jumlah ideal. Penelitian ini membuka peluang untuk pengembangan produk bakso yang lebih sehat dan bernilai gizi tinggi, serta mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku yang sering dianggap sampah, seperti ceker ayam
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Abdillah, I. 2006. Pengaruh kadar air terhadap tekstur bahan pangan. Jurnal Teknologi Pangan,
(2), 45–52.
Astawan, M., et al. 2008. Kualitas bakso daging ayam petelur afkir. Jurnal Teknologi Pangan
Indonesia, 12(2), 123–130.
Chong, J., et al. 2017. Pengaruh penambahan daging ayam petelur afkir terhadap kualitas bakso.
Jurnal Ilmu Pangan dan Teknologi, 14(3), 135–142.
Dahlia, M., et al. 2020. Pengaruh kolagen pada bahan bakso terhadap kadar air. Jurnal Teknologi
Pangan, 19(2), 88–94.
DeGarmo, E. P. 1984. Engineering design: A materials and processing approach. Macmillan
Publishing Co.
Falahudin, A. 2013. Pengaruh komposisi bahan dan proses pengolahan terhadap kualitas
organoleptik bakso. Jurnal Teknologi Pangan, 3(2), 47–53.
Fauzi, M. 2014. Komplikasi diabetes mellitus: Aspek patofisiologi dan penanganannya. Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 5(1), 18–25.
Gillespie, J. R., & Flanders, G. E. 2010. Poultry science. Oxford University Press.
Hasdianah, N. 2012. Dampak jangka panjang diabetes mellitus terhadap kesehatan. Jurnal
Penyakit Kronis, 7(3), 90–101.
Knight, P. 1998. Effect of water content on meat texture. Food Science and Technology, 35(4),
–240.
Laroche, M. 1992. Consumer behavior: A sensory perspective. Journal of Consumer Research,
(4), 569–575.
Lawless, H. T., & Heymann, H. 2010. Sensory evaluation of food: Principles and practices.
Springer Science & Business Media.
Liu, L., et al. 2001. Collagen in chicken feet. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 49(4),
–2064.
Mountney, G., & Parkhurst, A. 1995. Sumber protein dalam daging ayam. Jurnal Ilmu Pangan,
(4), 75–82.
Mudalal, S., et al. 2014. Proteins and textures of chicken meat. Food Research International, 64(1),
–28.
Novidahlia, M. 2011. Kandungan air tepung ceker ayam. Jurnal Teknologi Pangan, 17(2), 120–
Offer, G., & Knight, P. 1998. The structural basis of meat texture. Journal of Muscle Foods, 9(3),
–172.
Palacio, A., & Theis, J. 2009. Principles of sensory evaluation. CRC Press.
Prastya, I., et al. 2013. Substitusi tepung tapioka dengan tepung sukun pada pembuatan bakso.
Jurnal Gizi Indonesia, 9 (2), 40–45.
Purwasih, H. 2019. Penggunaan bahan lokal pada bakso untuk meningkatkan kandungan protein.
Jurnal Pangan dan Gizi, 10(3), 56–63.
Purwatiwidiastuti, T. 2011. Ceker ayam sebagai sumber omega-3 dan omega-6. Jurnal Gizi
Indonesia, 18(3), 75–82.
Putra, T. A., et al. 2020. Pengaruh tepung ceker ayam terhadap kualitas nutrisi bakso. Jurnal
Teknologi Pangan, 18(1), 45–53.
Rahayu, S. 2001. Pengaruh warna terhadap kualitas bahan pangan. Jurnal Sains Pangan, 12(4),
–225.
Rasbawati, S. 2018. Kandungan protein dalam tepung ceker ayam. Jurnal Teknologi dan Sumber
Daya Pangan, 15 (2), 25–30.
Santoso, I., et al. 2014. Penggunaan tepung ceker ayam untuk meningkatkan kandungan protein
dalam bakso. Jurnal Pangan dan Teknologi, 11(2), 98–104.
Shobikhah, A. 2014. Manfaat tepung ceker ayam bagi kesehatan. Jurnal Gizi dan Kesehatan, 6(2),
–49.
Soeparno. 1996. Protein dalam jaringan ikat dan kolagen pada daging ayam. Jurnal Ilmu
Peternakan, 14 (1), 52–59.
Soeparno. 2005. Ilmu pangan dan gizi. Gramedia Pustaka Utama.
Sompie, M. A., et al. 2019. Peningkatan nilai gizi bakso dengan tepung ceker ayam. Jurnal
Teknologi Pangan Indonesia, 22(3), 133–140.
Usmiati. 2010. Pangan dan gizi seimbang. Universitas Gajah Mada Press.
Widiastuti, R., & Wahyudi, W. 2015. Pemanfaatan daging ayam petelur afkir dalam pembuatan
bakso. Jurnal Teknologi Pangan, 8(3), 101–107.
Winarno, F. G. 2004. Kimia pangan dan gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Winarno, F. G. 2007. Kimia pangan dan gizi. Penebar Swadaya.
Yahya, S. 2018. Kandungan nutrisi ayam petelur afkir. Jurnal Pangan dan Nutrisi, 10(1), 34–40.
Zulkarnain, H., et al. 2016. Pengaruh penambahan tepung ceker ayam pada tekstur dan kadar air
bakso. Jurnal Ilmu Pangan dan Gizi, 18(3), 105–110.
Article metrics
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2025 JSTT (Jurnal Sains Ternak Tropis)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Publisher
Program Study Animal Husbandry. Muhammadiyah University of Gorontalo. Addres Office : Jl. Prof. Mansoer Pateda, Desa Pentadio Timur, Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. 96181. Email : [email protected]

Jurnal Sains Ternak Tropis is licensed under a Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional






